Bahaya Ideologi dan tarik ulur antara: “endapan-endapan” pemikiran dan perasaan lama di tengah masyarakat serta tuntutan-tuntutan pragmatis mereka (di satu sisi) dengan usaha penanaman pemikiran-pemikiran mabda’i di tengah umat;  kepentingan partai untuk memimpin mereka dan kesetiaan partai kepada Mabda’ (di sisi yang lain)

Asy-Syaikh Taqiyyuddin An Nabhani memberi penjelasan tentang “Bahaya Ideologis” yang berpotensi muncul saat suatu gerakan politik ideologis mencoba memimpin umat secara praktis:

“Adapun bahaya ideologis, maka ia muncul dari arus jama’ah dan hasrat untuk memenuhi tuntuntan-tuntutan yang bersifat kekinian/jangka pendek dan mendesak, serta datang dari adanya berbagai “endapan” dalam pandangan-pandangan jama’ah yang lebih dominan dari pengaruh pemikiran partai.

Hal demikian terjadi karena ketika partai terjun ke dalam lautan kehidupan di tengah masyarakat, ia mulai menjalin hubungan dengan khalayak, berinteraksi dengan mereka dan berusaha untuk memimpin mereka, pada saat itu hizb membekali dirinya dengan mabda’, sementara dalam diri khalayak masih terkumpul berbagai hal yang bertentangan, baik berupa pemikiran-pemikiran lama yang kolot, warisan-warisan generasi terdahulu berupa pemikiran-pemikiran asing yang berbahaya serta sikap membebek pada kafir penjajah (inilah endapan-endapan itu –penerj). Ketika partai menjalankan interaksi dengan khalayak, partai berusaha membekali mereka dengan pandangan-pandangan dan pemahaman-pemahaman partai, berusaha keras untuk meluruskan pemahaman mereka, membangkitkan akidah Islam di tengah-tengah mereka, mewujudkan suasana yang benar serta tradisi umum yang baik menggunakan pemahaman-pemahaman yang diadopsi partai. Usaha ini membutuhkan seruan dan propaganda sehingga umat bisa berkumpul di sekeliling partai atas dasar mabda’, dalam bentuk kuatnya keimanan umat terhadap mabda’, bangkitnya kepercayaan terhadap pemahaman-pemahaman partai, adanya penghormatan dan penghargaan terhadapnya, dan kesiapan khalayak untuk taat dan beramal (bersama partai). Pada saat itu, wajib bagi partai untuk memperbanyak pemudanya yang mu’minin dan dipercaya di tengah-tengah umat, agar merekatetap berpegang pada tali kendalinya, seperti perwira di tengah pasukan. Jika partai berhasil melakukan interaksi pada tahap ini, maka ia akan memimpin umat menuju tujuan yang dikehendakinya, dalam batas-batas mabda’, dan mengamankan laju kereta tanpa keluar dari relnya.

Namun apabila partai memimpin khalayak sebelum ia menyempurnakan interaksi dengan mereka, sebelum terwujud kesadaran umum di tengah umat, maka sesungguhnya kepemimpinannnya terwujud bukan karena mabda’ dan pemikiran-pemikirannya, melainkan dengan menggambarkan apa yang bergelora pada diri umat, dengan mempengaruhi perasaan mereka dan penggambaran bahwa tuntutan-tuntutan mereka akan segera dapat diraih.

Namun, pada saat itu, khalayak belum melepaskan diri dari perasaan-perasaan lama mereka seperti wathaniyyah, qaumiyyah, spiritualisme kependetaan, dan keadaan jama’ah mendorong perasaan-perasaan ini, maka pada saat itu tampaklah pada diri mereka paham fanatisme yang rendah, seperti fanatisme terhadap golongan dan mazhab, muncul pula pemikiran-pemikiran lama seperti kemerdekaan dan kebebasan, tampak pula kefanatikan yang rusak, seperti rasialisme dan kefanatikan kepada keluarga (semua ini adalah endapan yang semestinya sudah hilang ketika partai mulai memimpin –penerj). Maka pada saat itu mulailah ada pertentangan antara khalayak dengan partai, karena mereka mengajukan tuntutan-tuntutan kepada partai yang tidak selaras dengan mabda’, menyerukan berbagai target kekinian/jangka pendek yang berbahaya bagi umat. Mereka sangat menghendaki tuntutan-tuntutan tersebut, sementara gejolak untuk merealisasikannya terus bertambah. Di sini muncul pula paham-paham fanatik yang beragam.

Dalam kondisi demikian posisi partai ada di tengah dua pilihan sulit: pertama, menghadapi kemarahan dan kebencian umat, dan runtuhnya pengaruh yang telah ia bangun terhadap jama’ah. Kedua, menghadapi kemungkinan lepasnya partai dari mabda’nya dan sikap meremehkan mabda’. Masing-masing dari kedua hal buruk ini mengandung bahaya bagi partai.

Oleh karena itu, wajib bagi para anggota partai untuk berpegangteguh pada mabda’ apabila terjadi pertentangan urusan antara khalayak dengan mabda’, sekalipun mereka harus menghadapi kemarahan umat, karena kemarahan itu bersifat sementara. Keteguhan mereka di atas mabda’ justru akan mengembalikan kepercayaan umat kepada mereka. Hendaklah mereka berhati-hati untuk tidak menyalahi mabda’ dan tidak menyimpang dari prinsipnya meski hanya sehelai rambut, karena mabda’ merupakan nyawa partai yang menjamin kelangsungan hidupnya.

Agar terjaga dari posisi kritis dan terhindar dari bahaya semacam itu, partai harus berusaha keras untuk menyirami umat dengan mabda’nya, menjaga kejelasan pemikiran-pemikiran partai dan pemahaman-pemahamannya, berusaha untuk menjaga agar suasana yang diciptakannya tetap mendominasi umat. Hal itu akan mudah dengan memberi perhatian serius terhadap tahap pembinaan, mencurahkan perhatikan akan pentingnya tsaqafah jama’iiyah dengan perhatian yang besar, bersungguh-sungguh mengungkap rencana-rencana penjajah secara teliti, selalu memperhatikan umat dan kemaslahatannya, menyatu dengan mabda’ dan partai secara sempurna, selalu menelaah pemikiran partai dan pemahaman-pemahamannya untuk menjaga kejernihannya, dan mencurahkan segenap kemampuan untuk menjalankan semua itu, seberapa pun besarnya usaha dan kesungguhan yang harus dikerahkan.”

[Diterjemahkan dari kutaib At-Takattulul Hizbiy” karya Asy-Syaikh Taqiyyuddiin An Nabhani, hlmn 52-54.]

Tambahan bacaan:

https://hizbut-tahrir.or.id/2008/12/01/bahaya-ideologis-dalam-dakwah/

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s