Khilafah dalam Nada Sumbang Pragmatisme

Sebagai orang yang menghendaki kembalinya khilafah, saya bukan hanya sekali atau dua kali saja mendapati tanggapan yang senada, baik dalam percakapan langsung maupun di dunia maya: “gimana kita mau mendukung khilafah kalau anda hanya membawa wacana? Belum ada bukti yang dapat dirasakan bahwa khilafah bisa memberi kehidupan yang lebih baik”.

Oke, saya tidak dapat mengelak bahwa -di tengah situasi yang penuh masalah ini- khilafah yang ideal itu belum juga berubah dari statusnya sebagai sebentuk tawaran, konsep, cita-cita, atau dalam bahasa yang agak sarkastik, mimpi indah dalam tidur siang yang panjang di dalam buaian demokrasi. Sementara waktu terus berjalan, bukan satu atau dua purnama saja, absennya khilafah dari kenyataan sudah memasuki usia lebih dari 90 tahun, tepatnya 92 tahun terhitung mundur sejak tulisan ini diketik. Artinya, bayi perempuan yang lahir pada hari itu sekarang sudah menjadi nenek-nenek keriput yang tak lucu lagi, itu pun kalau beliau masih hidup.

Baik, kita tinggalkan masa lalu, saya ingin bicara soal tanggapan orang tadi. Awalnya, saya sempat berpikir bahwa tanggapan semacam itu layak ditempatkan dalam jajaran tujuh pernyataan paling absurd di dunia (versi Bengkelfikrah). Sebab alasan orang tersebut tidak mau mendukung khilafah adalah karena ia belum bisa merasakan kebaikan khilafah itu secara riil, “khilafah baru wacana”, ungkapnya. Itu kan sama seperti mengatakan: “saya tidak mau ikut membantu anda membuat makanan ini sebelum lidah saya dapat merasakan bukti kelezatannya, anda baru memberikan wacana kelezatan”..? Gimana mau terasa lezat lha wong makanannya saja masih membutuhkan tenaga untuk dapat diolah..? Sepertinya, model orang semacam ini tak akan pernah mau berkeringat untuk mendukung gagasan baru, alih-alih berani memunculkan suatu konsep ideal untuk kehidupan masyarakat yang diimpikan. Atau bahkan ia memang tidak pernah punya idealisme, malah semua idealisme dianggapnya tak layak diperjuangkan karena efeknya belum terbukti nyata.

Namun kemudian, saya teringat patron filsafat yang -entah disengaja atau tidak- jumbuh dengan sikap semacam itu. Dialah pragmatisme. Sebuah konsep hanya dikatakan bermakna jika ia memiliki dampak praktis, seperti yang berlaku bagi Peirce, salah satu tokoh pragmatisme, “apa yang tidak mengakibatkan perbedaan tidak mengandung makna”[1]. Dan menurutnya, konsep itu dinilai benar jika ia terbukti dapat memberi kemanfaatan bagi manusia secara umum[2]. Kalau demikian, kebenaran suatu konsep akan sangat tergantung pada pengalaman empiris umat manusia dalam menjangkau konsekuensi praktis dari konsep tersebut, tanpa pengalaman itu manusia tak dapat menyatakan kebenarannya.

Jika nada sumbang terhadap khilafah tadi secara sengaja mengacu pada pragmatisme model ini, ia tak bisa dianggap sebagai sebuah absurditas yang naif. Perkaranya menjadi lebih serius karena yang bersangkutan menganut suatu kaidah berpikir yang bermasalah jika ditinjau dari pandangan Islam. Mari kita berikan contoh.

Menurut kepercayaan Islam, Allah memerintahkan kita untuk mengerjakan shalat lima kali dalam sehari-semalam. Jika benar/salahnya kepercayaan ini digantungkan pada konsekuensi praktisnya, seperti yang dianut oleh pragmatisme, maka setidaknya akan timbul dua masalah:

Pertama, jika ternyata shalat lima waktu tak memberi dampak positif yang bisa dirasakan dalam kehidupan, maka kepercayaan akan wajibnya shalat bisa dikatakan tidak bernilai benar. Padahal semestinya, benar/salahnya kepercayaan mengenai apa yang diperintahkan oleh Allah ini diukur dari aspek korespondensinya, “Apakah dalam kenyataannya Allah benar-benar memerintahkan manusia untuk shalat?” Pikiran yang benar mengatakan, kendati manusia tidak bisa merasakan konsekuensi positif dari aktivitas shalat, itu tidak membuktikan bahwa Allah tidak memerintahkan shalat. Benarkah Allah memerintahkan shalat? Ini perkara yang tak terjangkau rasio dan pengalaman manusia secara langsung. Namun, kepercayaan akan wahyu dari Allah, berupa Al-Qur’an dan As-Sunnah, merupakan hal fundamental dan sangat berarti dalam Islam. Seharusnya, berdasar informasi yang didapat dari kedua sumber itulah manusia mencari tahu “apakah benar Allah memerintahkan shalat lima waktu?”, bukan dari konsekuensi praktisnya.

Kedua, jika kita menganut pragmatisme, maka apa yang sebaiknya kita kerjakan tergantung pada dampak positif yang telah terkenali sebelumnya oleh pengalaman. Ini berarti kita tidak akan mengerjakan shalat sebelum melihat dampak baiknya. Katakanlah shalat itu ternyata benar-benar melahirkan dampak praktis yang positif, lalu atas dasar pertimbangan apa pertama kali shalat dikerjakan ketika tak seorang pun tahu tentang konsekuensi praktis yang akan dihasilkannya? Sementara ditinjau dari motivasinya, pragmatisme akan membuat kita mengerjakan shalat semata karena ingin mewujudkan konsekuensi praktisnya. Berbeda dengan yang dikehendaki oleh Islam. Menurut Islam, manusia harus tunduk kepada Allah, mendengar dan taati segala perintah dan laranganNya demi mengabdi kepadaNya. Maka shalat pun dikerjakan semata karena keyakinan bahwa aktivitas tersebut diperintahkan oleh Allah tanpa dipusingkan oleh dampak praktis macam apa yang membuntuti aktivitas shalat tersebut.

Namun saya rasa, tanggapan orang terhadap dakwah khilafah seperti terilustrasikan pada paragraf pertama itu hanya sebentuk “pragmatisme bawah sadar” yang tidak benar-benar dipegang secara konsisten. Seorang muslim seharusnya menilai sesuatu dari hukum syara’-nya, untuk kemudian menentukan sikap berdasarkan hukum tersebut. Maka semestinya, faktor yang menentukan jawaban “apakah kita harus berpartisipasi dalam penegakkan khilafah atau tidak?” adalah hukum syara’. Jika berdasarkan dalil-dalil yang ada khilafah ternyata memang kewajiban dari Allah, semestinya kita tidak boleh menunggu apa pun –termasuk bukti praktis- untuk ikut berusaha menunaikan kewajiban ini. Karena wajib atau tidaknya khilafah bukan tergantung pada dampak praktis dari konsep khilafah tersebut. [8/05/16]

 

[1] Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1996), h. 130

[2] Ali Mudhofir, Kamus Teori dan Aliran dalam Filsafat dan Teologi (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1996), h. 194

Advertisements

3 thoughts on “Khilafah dalam Nada Sumbang Pragmatisme

  1. Alhamdulillah punya blog lagi…Kalo tulisan di blog terdahulu masih ada, bagus juga di share di blog baru ini…saya banyak mengambil manfaat dari tulisan2 itu. Cuma sayang blm di save semua..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s